Tepian kemarin ditengok segerumul..
Tiap lengkungnya bercerita banyak tentang peraduannya,,
Bias-bias kini bukan lagi kepalang!
Terus dijemur bait-bait memang sudah saatnya diangkat,,,
Lepas..lepas..sandal jepitnya tersangkut,,
Memeluk lolosnya hingga berteriak kabur,,
terlalu erat ia menjerat dengan benang rajut kemarin..
Undangan acuh sudut mata hanya berlalu mendengkur,,
Jalannya tidak biasa,,
Sekelebat menyimpan simbol-simbol baru yang minta dijamah..
Terus bersenandung dibalik penasaran yang berkedut kencang sejak tadi..
Senandung lirik sambil dilirik waktu yang tumpah sepanjang jalan...
Selamatkan orion!!!
Coba intip dibalik layar teropongmu yang sudah gemetar..
Gelisah memang selalu bermasalah saat harus mengungkap...
Berbayang sama,,"coba atur fokusnya.."
Sesaat sejuk,,sambil mengingat-ingat sensasi tadi..
aneh,,tapi terus mengeliat,,seakan merayap kembali ke permukaan..
Sedikit di coba biar berkelas katanya...
ini terlalu sulit untuk tak tergoda..
"Persetan,,ini anakku yang kau bicarakan!!!"
like the feet to walk, the lungs to breath, the brain to think, the heart to hope, and the words to be free...
Minggu, 09 November 2008
Selasa, 04 November 2008
Buat ini Jadi permulaan
"aku tak bisa biasa,,"
"Katakan lagi siap yang mulai..ku percaya kau bisa"
Seperti menyelami sedikit masa depanmu yang selalu enggang kau tengok,,
Menarilah sedikit walau kau hanya berdendang sedikit,,,
Terbang sebentar walau sadar kau hanya 5 cm di atas tanah dalam seper sekian detik,,
Kan hanya sesuatu yang tak pernah sakiti, hanya belum kau mulai,,
Kunjungi tempat yang baru,,
Bukalah semua pintu berdebu dan tirai apak di angan,,,
Lihatlah lebih bijak semua terlewat bukan sekedar dilewati,,,
Pernahkah sipu yang penuhi saat kau sadar akan tertidur,,
ini hanya dunia yang selalu terjaga dan tak perlu kau campuri urusannya,,
Jangan biarkan kau tunduk!!!
Bukan dihindari, asal aman tak terajak,,
Rapuh bukan untuk dibuang,,
Jangan mengasa saat kau masih bisa mengambilnya,,
Asap hanya manian api diumpat,,
Dengung itu hanya gema ragu sendiri,,
Kabut hanya jubah agar fajar selalu memisteri,,
"ulurkan tanganmu,,biar kubantu sedikit"
"terimakasih.."
"hanya jangan jadi gemar sendiri"
"Katakan lagi siap yang mulai..ku percaya kau bisa"
Seperti menyelami sedikit masa depanmu yang selalu enggang kau tengok,,
Menarilah sedikit walau kau hanya berdendang sedikit,,,
Terbang sebentar walau sadar kau hanya 5 cm di atas tanah dalam seper sekian detik,,
Kan hanya sesuatu yang tak pernah sakiti, hanya belum kau mulai,,
Kunjungi tempat yang baru,,
Bukalah semua pintu berdebu dan tirai apak di angan,,,
Lihatlah lebih bijak semua terlewat bukan sekedar dilewati,,,
Pernahkah sipu yang penuhi saat kau sadar akan tertidur,,
ini hanya dunia yang selalu terjaga dan tak perlu kau campuri urusannya,,
Jangan biarkan kau tunduk!!!
Bukan dihindari, asal aman tak terajak,,
Rapuh bukan untuk dibuang,,
Jangan mengasa saat kau masih bisa mengambilnya,,
Asap hanya manian api diumpat,,
Dengung itu hanya gema ragu sendiri,,
Kabut hanya jubah agar fajar selalu memisteri,,
"ulurkan tanganmu,,biar kubantu sedikit"
"terimakasih.."
"hanya jangan jadi gemar sendiri"
Sabtu, 18 Oktober 2008
Redup
Kepulannya meletup-letup di kepala,,,
bersama setiap perjalanan yang rancu terus bergulir,,
tempurungnya berjalan perlahan masih kelihatan masam,,
ku terus bergulat dengan lawan yang lama tak mengenal,,
guratannya menyimpan banyak lekuk yang eksotermis,,
menahan semua kabut sesak yang terus berdesakan minta dibawa,,
menggunduli undakan fondasi yang lama dibangun,,
sia-sia saja minta tolong,,hanya orang tolol yang mau terus direngek,,
setiap derit yang sembunyi, makin sering kedutnya terbangunkan,,,
menyelinap dalam tiap gang sempit yang selalu terlihat sama,,
langkahku terjegal lagi di tempat yang sama, sebelum belokan itu,,
berkali-kali jatuh dan memeriksa kelengkapan tiap lembar kewarasanku yang kian memudar,,
Dentuman senjata api terdengar sangat melodis di telinga,,
terus bersahutan di belakang sadar dengan tiap dengup jantung yang terburu,,
Menjual sedikit harga diri juga percuma,, yang ada hanya nyata yang sulit diterobos,,
alih-alih mengantri,,ku hanya terus pasrah dengan takdir yang lupa diperjuangkan,,
Sebuah komedi bisu terus berlangsung di perempatan tadi malam,,
menampilkan gurauan yang terus diulang,,
entah lupa di daur, atau memang karena sulit mengenyahkannya,,
tawa statis saling bergantian, bersamaan dengan menyusutnya sekelebat persamaan yang disebut 'waktu'..
Jaring-jaring mantra berbau magis terus dipropagasi!!
sedikit lempar dengar isu-isu isapan jempol,,
jangan kaget jalanan sepi itu bakal jadi medan perang seperti jaman penjajahan,,
bukan dengan keris dan bambu runcing lagi,,hanya orang-orang berkemeja rapi yang semakin sulit dibedakan dengan anjing lapar...
Lagi-lagi sebuah keluhan yang terus mengaduh,,,
sesak tak tertahan yang kurang tempat untuk tidur atau sekedar bersandar,,
rapalan-rapalan bengis 'bangsat'; 'bajingan'; serta 'keparat' acap sering dilantunkan...
sulit dipisahkan, seperti bumbu penyedap dalam semangkuk soto ayam yang sudah dingin,,
Lalu tersenyum dibias sinis berkelanjutan,,,
bersama setiap perjalanan yang rancu terus bergulir,,
tempurungnya berjalan perlahan masih kelihatan masam,,
ku terus bergulat dengan lawan yang lama tak mengenal,,
guratannya menyimpan banyak lekuk yang eksotermis,,
menahan semua kabut sesak yang terus berdesakan minta dibawa,,
menggunduli undakan fondasi yang lama dibangun,,
sia-sia saja minta tolong,,hanya orang tolol yang mau terus direngek,,
setiap derit yang sembunyi, makin sering kedutnya terbangunkan,,,
menyelinap dalam tiap gang sempit yang selalu terlihat sama,,
langkahku terjegal lagi di tempat yang sama, sebelum belokan itu,,
berkali-kali jatuh dan memeriksa kelengkapan tiap lembar kewarasanku yang kian memudar,,
Dentuman senjata api terdengar sangat melodis di telinga,,
terus bersahutan di belakang sadar dengan tiap dengup jantung yang terburu,,
Menjual sedikit harga diri juga percuma,, yang ada hanya nyata yang sulit diterobos,,
alih-alih mengantri,,ku hanya terus pasrah dengan takdir yang lupa diperjuangkan,,
Sebuah komedi bisu terus berlangsung di perempatan tadi malam,,
menampilkan gurauan yang terus diulang,,
entah lupa di daur, atau memang karena sulit mengenyahkannya,,
tawa statis saling bergantian, bersamaan dengan menyusutnya sekelebat persamaan yang disebut 'waktu'..
Jaring-jaring mantra berbau magis terus dipropagasi!!
sedikit lempar dengar isu-isu isapan jempol,,
jangan kaget jalanan sepi itu bakal jadi medan perang seperti jaman penjajahan,,
bukan dengan keris dan bambu runcing lagi,,hanya orang-orang berkemeja rapi yang semakin sulit dibedakan dengan anjing lapar...
Lagi-lagi sebuah keluhan yang terus mengaduh,,,
sesak tak tertahan yang kurang tempat untuk tidur atau sekedar bersandar,,
rapalan-rapalan bengis 'bangsat'; 'bajingan'; serta 'keparat' acap sering dilantunkan...
sulit dipisahkan, seperti bumbu penyedap dalam semangkuk soto ayam yang sudah dingin,,
Lalu tersenyum dibias sinis berkelanjutan,,,
Kamis, 16 Oktober 2008
Semudah itu,,,
Kau bertanya kenapa pulang,,
ku bawakan waktu bersamaan,,
temali kusut bekas seorang letnan,,
biasa saja,,,
Kau ricuh tentang pangsa yang turun naik tak karuan,,
ku hanya binggung dengan senja yang setia bergantian,,
makanan dan minuman yang makin tak seragam,,
ku tidur tetap terpejam,,
Kau sibuk dengan perdebatan capres yang makin tak menentu,,
ku terus sibuk dengan obat batuk yang nyatanya berakohol,,
tentang kue pandan yang tak pernah ungu,,
atau bagaimana membunuh bosan di kakus menunggu,,
hedon tak terasa di sekujurku,,,
mati tinggal masalah waktu yang tak perlu dipusingkan,,
kau hanya berkhayal menghentikan waktu,,
ku hanya resah tentang esok yang masih jauh terbentang,,
serutan lingkupmu tak kalah heboh dengan tiap lekuk nadiku,,
hanya sikapi berbeda saja, seperti papan reklame yang lama terpasang siang malam,,
atau terkadang terlihat seperti teka-teki silang di surat kabar,,,
tak kunjung hilang pujangga termakan waktu, seperti sikapmu yang meledak sewaktu-waktu,,
Nobilis,,kapan kau terangi aku,,
sekelebat saja, secercah cahayai silaukan,,,
tengok secarik lagi,,menuai percaya sendiri,,,
dan debat kosongmupun diam,,
ku bawakan waktu bersamaan,,
temali kusut bekas seorang letnan,,
biasa saja,,,
Kau ricuh tentang pangsa yang turun naik tak karuan,,
ku hanya binggung dengan senja yang setia bergantian,,
makanan dan minuman yang makin tak seragam,,
ku tidur tetap terpejam,,
Kau sibuk dengan perdebatan capres yang makin tak menentu,,
ku terus sibuk dengan obat batuk yang nyatanya berakohol,,
tentang kue pandan yang tak pernah ungu,,
atau bagaimana membunuh bosan di kakus menunggu,,
hedon tak terasa di sekujurku,,,
mati tinggal masalah waktu yang tak perlu dipusingkan,,
kau hanya berkhayal menghentikan waktu,,
ku hanya resah tentang esok yang masih jauh terbentang,,
serutan lingkupmu tak kalah heboh dengan tiap lekuk nadiku,,
hanya sikapi berbeda saja, seperti papan reklame yang lama terpasang siang malam,,
atau terkadang terlihat seperti teka-teki silang di surat kabar,,,
tak kunjung hilang pujangga termakan waktu, seperti sikapmu yang meledak sewaktu-waktu,,
Nobilis,,kapan kau terangi aku,,
sekelebat saja, secercah cahayai silaukan,,,
tengok secarik lagi,,menuai percaya sendiri,,,
dan debat kosongmupun diam,,
Terhambur Rasa,,
Anggap semua sepele,,
kau di sana, ku hanya di sini,,
mengikat sebuah pecahan yang terhambur,,
lalu,,anggap semua tak pernah terjadi...
Kalut yang datang pergi selalu berganti,,
Kadang dilupa,,tak sedikit yang terbawa,,
terhambur seperti remah roti yang tercecer saat di santap si bocah kusam,,
dia sisakan susunya terburu,,
Terlambat,,katanya tak ada,,
mungkin karena buang waktu tak berguna,,,
layaknya ingatan dulu yang terhambur acak di kepala,,
kadang hilang sekat ralita dan fiksi belaka,,
Berlagak tenang tak ada apa,,,
memeras baju kebasahan yang baru dicuci,,
kemarin muak dengan pakaian kotor yang terhambur menumpuk,,
di sudut kamar lembab yang berjamur,,
jangan rasa kalau memang tidak merasa,,
jangan memandang jika memang kabur di mata,,
tak pernah meminta,,tak juga mengajakmu,,
hanya saja sedikit untaian kata,,,"maaf"
dan semuanya mungkin tak pernah terjadi,,
kau di sana, ku hanya di sini,,
mengikat sebuah pecahan yang terhambur,,
lalu,,anggap semua tak pernah terjadi...
Kalut yang datang pergi selalu berganti,,
Kadang dilupa,,tak sedikit yang terbawa,,
terhambur seperti remah roti yang tercecer saat di santap si bocah kusam,,
dia sisakan susunya terburu,,
Terlambat,,katanya tak ada,,
mungkin karena buang waktu tak berguna,,,
layaknya ingatan dulu yang terhambur acak di kepala,,
kadang hilang sekat ralita dan fiksi belaka,,
Berlagak tenang tak ada apa,,,
memeras baju kebasahan yang baru dicuci,,
kemarin muak dengan pakaian kotor yang terhambur menumpuk,,
di sudut kamar lembab yang berjamur,,
jangan rasa kalau memang tidak merasa,,
jangan memandang jika memang kabur di mata,,
tak pernah meminta,,tak juga mengajakmu,,
hanya saja sedikit untaian kata,,,"maaf"
dan semuanya mungkin tak pernah terjadi,,
Gerimis
Ku kerasukan!!!
Meniti tepian baru yang belum terjamah,,
kesana kemari,,sama saja,,
Mana tempat berpijak, lantah lagi,,,Basah semua,,,
Surat kabar kontemporer terbitan baru,,,
Sambil jajaki, bersuara lantang, lalu temani,,,
Mengagumi kemudian berdesis membelakangi,,
ini semua omong kosong,kan?!
Jabat tanganku, mana mimpi?!
5 % di label nyatanya hanya informasi,,
tetap saja panas hati resah diri!!!
Melegam melemah,,,
Tolong!!!
Ku terjerat dia,,,
Meniti tepian baru yang belum terjamah,,
kesana kemari,,sama saja,,
Mana tempat berpijak, lantah lagi,,,Basah semua,,,
Surat kabar kontemporer terbitan baru,,,
Sambil jajaki, bersuara lantang, lalu temani,,,
Mengagumi kemudian berdesis membelakangi,,
ini semua omong kosong,kan?!
Jabat tanganku, mana mimpi?!
5 % di label nyatanya hanya informasi,,
tetap saja panas hati resah diri!!!
Melegam melemah,,,
Tolong!!!
Ku terjerat dia,,,
Senin, 13 Oktober 2008
Sehidup lalu semati
Senin, selasa, rabu, kamis, jum'at, sabtu, minggu...
....
...
..
.
Lalu masih malu jadi orang yang membosankan??
....
...
..
.
Lalu masih malu jadi orang yang membosankan??
Langganan:
Postingan (Atom)