Kisah tercatat, secarik lembar bercerita..
Sepoinya angkat semua resah yang memenuhi..
Sekarang hanya tidak rugi saja..
Dalam hitungan mundur yang tak kenal lagi berhenti..
Pasak sudah jauh tertanam ladang yang mati...
Perlahan tinggalkan nyanyian ritmis yang berulang..
Api tak lagi terangi ujung-ujung yang lusuh terjamahi..
Berjalan pelan sambil dilupakan waktu yang tak tentu...
Pertimbangannya goyang tak tenang...
Menempuh aral yang bertubi-tubi mengunyah asa..
Membuangnya dan menginjak-injak sambil disumpahi..
Dari semenanjung Malaka sampai ke negri seberang...
Bangkit!!!
Bukan karena perih dikuliti..
Atau lelah berlari lagi..
Derajat sebuah pentas panggung yang hikayat...
Semilir musim berganti...
Langit cerah lagi mengisi biru layar terkembang...
Lentera bergoyang melambai lepas pergi..
Ku karam lagi...
like the feet to walk, the lungs to breath, the brain to think, the heart to hope, and the words to be free...
Selasa, 25 November 2008
Sabtu, 22 November 2008
Sukmasih...
Fosfor memenuhi ruang sepi..
Sesekali terdengar desah nafas kelelahan..
Guman semu tentang berita yang naif seminggu sekali...
Hafal setiap letaknya untuk menyakiti sekedar sekali...
Malu,,Lupa akan semua silam yang memudar oleh waktu..
Yang terus duduk di kursi maasnya yang berdebu..
Paras apa lagi yang akan dipakai untuk mengelabuhi...
Berlabuhlah kapal di tepian sesorean setelah merah...
Dihadapi dengan lapang katanya, biar tak gundah...
Kibas angin semilir hanya menghapus peluh jadi percuma..
Mengadah kesetiap sudut langit berharap hujan basahi..
Dengan segala misteri yang terbawa setahun berarak di sana..
Menerjang! Lari dari kenyataan yang tak ramah lagi...
Ku bosan dengan dosa yang terus ditumpuk rapi buat bekal..
Atau segala simpul yang dibuat teratur oleh norma dan kode etik..
Bisakah mati dengan legkung manis yang menjerumuskan semua??
"Dia hidup dengan caranya...Dan mati sebagaimana mestinya.."
Sesekali terdengar desah nafas kelelahan..
Guman semu tentang berita yang naif seminggu sekali...
Hafal setiap letaknya untuk menyakiti sekedar sekali...
Malu,,Lupa akan semua silam yang memudar oleh waktu..
Yang terus duduk di kursi maasnya yang berdebu..
Paras apa lagi yang akan dipakai untuk mengelabuhi...
Berlabuhlah kapal di tepian sesorean setelah merah...
Dihadapi dengan lapang katanya, biar tak gundah...
Kibas angin semilir hanya menghapus peluh jadi percuma..
Mengadah kesetiap sudut langit berharap hujan basahi..
Dengan segala misteri yang terbawa setahun berarak di sana..
Menerjang! Lari dari kenyataan yang tak ramah lagi...
Ku bosan dengan dosa yang terus ditumpuk rapi buat bekal..
Atau segala simpul yang dibuat teratur oleh norma dan kode etik..
Bisakah mati dengan legkung manis yang menjerumuskan semua??
"Dia hidup dengan caranya...Dan mati sebagaimana mestinya.."
Selasa, 18 November 2008
Galau..
Benih tak jauh berpaut menjamunya..
Berdalih semir setiap bersandar rapuhnya...
Sekelebat habis cerita perginya..
Dengar sejenak rintih kebosanannya...
Jatuh kembali gema memanggil...
Ratap gemetar menggigil..
Janji Jani besok lupa diambil...
Jamah mendekap tapi tak dihadang..Kail..
Atap lapuk kelamaan guna tertata..
Suratan jua yang memisahkan di sana dan di sini..
Meringis, tersendak dalam sadar yang fana berbasuh..
Lupa jalan pulang,,hati dingin yang berkesudahan...
Lampiran sudut lembar risau semalam...
Luput tertanda nama yang dibilas..
lembayung senja yang merantau ke peraduan..
Biar...Kirimi kisah ku ke dalamnya..
Angin semusim...
Berdalih semir setiap bersandar rapuhnya...
Sekelebat habis cerita perginya..
Dengar sejenak rintih kebosanannya...
Jatuh kembali gema memanggil...
Ratap gemetar menggigil..
Janji Jani besok lupa diambil...
Jamah mendekap tapi tak dihadang..Kail..
Atap lapuk kelamaan guna tertata..
Suratan jua yang memisahkan di sana dan di sini..
Meringis, tersendak dalam sadar yang fana berbasuh..
Lupa jalan pulang,,hati dingin yang berkesudahan...
Lampiran sudut lembar risau semalam...
Luput tertanda nama yang dibilas..
lembayung senja yang merantau ke peraduan..
Biar...Kirimi kisah ku ke dalamnya..
Angin semusim...
Minggu, 16 November 2008
Sometime we just have to be Stars...
Let go the past that weighted..
Leave some note to remember..
Let the tear flow with you life swallow..
The age give another reason..Brave..
Take a brief breath to old oath..
Fall just haunt you while you aware..
Distance just minded time to forget..
There's always sign to new way..way of truth..
Feed an anger with every picture that smile..
Release some rage to burden someone..
While the other just try to yield..
Hold tight..You just need to stand beyond..
Every black should have a white..
Since it's dark there shall be a light..
Some alone just didn't realize some share..
Cause you'll be bright all night long..Stars in the North..
Leave some note to remember..
Let the tear flow with you life swallow..
The age give another reason..Brave..
Take a brief breath to old oath..
Fall just haunt you while you aware..
Distance just minded time to forget..
There's always sign to new way..way of truth..
Feed an anger with every picture that smile..
Release some rage to burden someone..
While the other just try to yield..
Hold tight..You just need to stand beyond..
Every black should have a white..
Since it's dark there shall be a light..
Some alone just didn't realize some share..
Cause you'll be bright all night long..Stars in the North..
Sabtu, 15 November 2008
Menunggu biar Semu...
Menepis semua tabir yang belakangan hadir...
Ikut intuisi memilih semilir yang selalu terjambak..
Gema kemarin terus nyaring dalam tabir yang lama belum tenggelam lagi..
Suratnya entah sampai..atau hanya terbuang sesal sakiti mata memamndang..
Terus bergilir sambil acuhkan si hilir yang mudik bersama waktu...
Semua perlu akhir yang memuaskan..bukan selalu dihiasi tawa..
Kadang remang jadi teduh saat harus tersandar dari tandus yang menggerayang..
Atau sekedar pelipur saat harus ikut berpijar saat susah berpendar..
Bulir peluh bercampur dengan asa yang sudah matang..
Lupa tiriskan hingga layu dalam pancingan..
Sekelebat tanggalan yang dinanti jadi hitam lagi..
Tampak Biasa dilihat sambil terus memejam...
Terus terhujam kebasahan hingga hilang yang pasti..
Ini gulatan antara sadar dengan dunia yang makin sinis dengan segala..
Rompi hanya pajangan saat semua terlelap dan hilang di balik awan mendung..
Kelabu seperti kebulan asap cerutu dan lupa untuk pudar sambil hilang dibalik misterinya...
Lupa dijamu sambil memerintahkan untuk baik-baik saja...
Punggungku sakit terus bertengger dibalik semua lelucon yang hanya sampul dan lupa dibaca..
Deburan Pasang surutnya sudah jadin pandangan yang tak asing..
Kuhanya curahkan semua..
Ikut intuisi memilih semilir yang selalu terjambak..
Gema kemarin terus nyaring dalam tabir yang lama belum tenggelam lagi..
Suratnya entah sampai..atau hanya terbuang sesal sakiti mata memamndang..
Terus bergilir sambil acuhkan si hilir yang mudik bersama waktu...
Semua perlu akhir yang memuaskan..bukan selalu dihiasi tawa..
Kadang remang jadi teduh saat harus tersandar dari tandus yang menggerayang..
Atau sekedar pelipur saat harus ikut berpijar saat susah berpendar..
Bulir peluh bercampur dengan asa yang sudah matang..
Lupa tiriskan hingga layu dalam pancingan..
Sekelebat tanggalan yang dinanti jadi hitam lagi..
Tampak Biasa dilihat sambil terus memejam...
Terus terhujam kebasahan hingga hilang yang pasti..
Ini gulatan antara sadar dengan dunia yang makin sinis dengan segala..
Rompi hanya pajangan saat semua terlelap dan hilang di balik awan mendung..
Kelabu seperti kebulan asap cerutu dan lupa untuk pudar sambil hilang dibalik misterinya...
Lupa dijamu sambil memerintahkan untuk baik-baik saja...
Punggungku sakit terus bertengger dibalik semua lelucon yang hanya sampul dan lupa dibaca..
Deburan Pasang surutnya sudah jadin pandangan yang tak asing..
Kuhanya curahkan semua..
Kamis, 13 November 2008
Suatu hari,,
Nenek berlapis sebisa mungkin bertindak biasa..
Bawa ciduknya bersama pangkal paha melata sebisa..
Angkat sauh di tepian karang beringsut ramai...
Terbawa pesan riuh, kabar angin perang dari negri sebrang...
Nyaris mati terdesak benang kusut yang kumal terjejal...
Raja para penguasa hanya tidur di singasana satu harian..
Pengrajin tembikar sibuk memintal,,Tidak seberapa surau angin melewati..
Kereta kuda jalan cepat, takut tertinggal..Genangan air gemericik terlewati..
Akhlak baik bukan penting sekarang juga..
Nanah darah luka lama yang lupa di bebat...
Cabai merah menangisi lagi lelayuan kamboja yang mulai pudar..
Ratapi siung yang tak kunjung tumbuh meneduhi teriknya..
Lama-lama dalai lama tersadarkan..
Bersamaan hilangnya peradaban yang dirindu..
Sebuah kisah terlipat berdebu...jamuran menyeruak di atap surau tua..
Kayunya renta termakan usia,,bersama akal sang penyamun...
Kapan terbang sejak lantun terselesai...
Menyandarkan harapan pada sehelai tali kasur..
Berita dulu baru mulai diindahkan..
Lantas lenyap sembilu ditembus peluru...
Bawa ciduknya bersama pangkal paha melata sebisa..
Angkat sauh di tepian karang beringsut ramai...
Terbawa pesan riuh, kabar angin perang dari negri sebrang...
Nyaris mati terdesak benang kusut yang kumal terjejal...
Raja para penguasa hanya tidur di singasana satu harian..
Pengrajin tembikar sibuk memintal,,Tidak seberapa surau angin melewati..
Kereta kuda jalan cepat, takut tertinggal..Genangan air gemericik terlewati..
Akhlak baik bukan penting sekarang juga..
Nanah darah luka lama yang lupa di bebat...
Cabai merah menangisi lagi lelayuan kamboja yang mulai pudar..
Ratapi siung yang tak kunjung tumbuh meneduhi teriknya..
Lama-lama dalai lama tersadarkan..
Bersamaan hilangnya peradaban yang dirindu..
Sebuah kisah terlipat berdebu...jamuran menyeruak di atap surau tua..
Kayunya renta termakan usia,,bersama akal sang penyamun...
Kapan terbang sejak lantun terselesai...
Menyandarkan harapan pada sehelai tali kasur..
Berita dulu baru mulai diindahkan..
Lantas lenyap sembilu ditembus peluru...
Selasa, 11 November 2008
Jadi (dapatkah memaknai...?)
Hidup itu labirin...
Rasa takut tersesat dan semangat menggebu penasaran apa yang menunggu jadi satu..
tak dapat dipisahkan...
layaknya kepulan asap api unggun atau buang air setelah makan minum sehari...
Hidup itu Kembang api...
Tak ragu lagi dinyalahkan karena binarnya, tapi tetap kecewa saat habis terbakar..
sulit untuk diubah..
Seperti menonton sebuah film box office yang kau gemari,,,
Sudah tahu ceritanya,,,ya tetap saja gelisah...
Hidup itu lautan...
Dalam dan luas,,Biru yang bebas...
membuatmu mual dan ingin pergi saat kau diburitan ketika badai datang..
Tapi buatmu tak mau beranjak sebentar saat dia tenang dan berikan fajar..
bau asin dan sepoi angin yang mengikatmu sedemikian..
Hidup itu semangkuk es krim...
Makan perlahan,,maka kau hanya dapatnya mencair...tidaknikmat..
Terlalu cepat,,kau akan merindu tiap sensasinya begitu saja ditiap gigitan,,,
Ada saatnya kau diamkan sejenak dan biarkan ia menceritakan kisahnya dalam mulut yang bungkam...
Rasa takut tersesat dan semangat menggebu penasaran apa yang menunggu jadi satu..
tak dapat dipisahkan...
layaknya kepulan asap api unggun atau buang air setelah makan minum sehari...
Hidup itu Kembang api...
Tak ragu lagi dinyalahkan karena binarnya, tapi tetap kecewa saat habis terbakar..
sulit untuk diubah..
Seperti menonton sebuah film box office yang kau gemari,,,
Sudah tahu ceritanya,,,ya tetap saja gelisah...
Hidup itu lautan...
Dalam dan luas,,Biru yang bebas...
membuatmu mual dan ingin pergi saat kau diburitan ketika badai datang..
Tapi buatmu tak mau beranjak sebentar saat dia tenang dan berikan fajar..
bau asin dan sepoi angin yang mengikatmu sedemikian..
Hidup itu semangkuk es krim...
Makan perlahan,,maka kau hanya dapatnya mencair...tidaknikmat..
Terlalu cepat,,kau akan merindu tiap sensasinya begitu saja ditiap gigitan,,,
Ada saatnya kau diamkan sejenak dan biarkan ia menceritakan kisahnya dalam mulut yang bungkam...
Langganan:
Postingan (Atom)